Lebihlanjut, Rizki pun mengaku tak merasa iri melihat sang adik, Ridho DA yang sudah memiliki pasangan. SERAMBINEWS.COM - Rumah tangga Rizki DA dan Nadya Mustika berakhir dengan perceraian.. Penyanyi dangdut Rizki DA kini berstatus duda pasca bercerai dengan Nadya Mustika.. Rizki mengaku biasa saja saat menjalani puasa tanpa pasangan, justru ia merasa sangat bersyukur. WindariSubangkit. Mantan vokalis band Samsons, Bambang Reguna Bukit alias Bams, akhirnya resmi bercerai dengan sang istri, Mikhavita Wijaya. Putusan itu diambil hakim dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Selasa (12/10/2021). Dalam keputusan tersebut, diketahui bahwa hak asuh anak mereka jatuh ke tangan InilahPersyaratan Cerai Pihak Istri dan Suami yang Perlu Disiapkan. Download - Jurnal Dinamika Hukum. Akibat Hukum dari Perceraian - Bizlaw. TIDAK DAPAT MENJALANKAN KEWAJIBAN HUBUNGAN "INTIM" SUAMI ISTRI MENYEBABKAN PERCERAIAN MENURUT HUKUM ISLAM1 Oleh : Nabila Bas. Minta Pisah karena Suami Tukang Ngutang, Gugatan Cerai Istri Dikabulkan Hakim Adaseorang perempuan yang bertanya kepada Komisi Fatwa Majma' Al-Buhuts Al-Islamiyah Al-Azhar.Dia telah diceraikan oleh suaminya dengan talak ba'in bainunah shughra (talak yang mana suami tidak lagi memiliki hak rujuk dengan mantan istrinya kecuali dengan akad dan mahar baru).. Kemudian satu setengah bulan setelah perceraian (masih dalam masa iddah), mantan suaminya meninggal dunia. Dalamhal ini, mantan suami tidak bisa merujuk karena mantan istrinya sudah menjadi istri orang lain. Sementara jika wanita telah mengakhiri masa iddah dalam kasus talak tiga, mantan suami tidak bisa rujuk dengan mantan istri, bahkan dengan meminangnya kembali, menikahi dengan mahar baru, maupun ijab qabul kembali sekalipun. Vay Tiền Nhanh Chỉ Cáș§n Cmnd. Ramai sebenarnya masih kurang pengetahuan akan hak isteri selepas kematian suami. Sehingga ada waris dan ahli keluarga suami sanggup bertikam lidah untuk merebut harta si mati tanpa persetujuan isteri disebabkan oleh tidak meninggalkan wasiat. Ia adalah perkara yang sangat biasa berlaku dalam masyarakat hari ini. Selain harta berbentuk kereta dan rumah, simpanan KWSP juga perlu dibahagikan secara faraid meskipun penama si mati adalah isterinya. Hak isteri ke atas duit KWSP setelah suami meninggal dunia foto freepik Berdasarkan penerangan oleh seorang speaker’ mengenai kewangan, sekiranya penama si mati merupakan isterinya, ia tidak bermakna keseluruhan duit tersebut adalah milik pasangannya. Hal ini kerana kiraan faraid juga boleh dituntut oleh ibu, bapa dan anak si mati. Justeru, mari kita lihat penjelasan daripada Azizul Azli Ahmad menerusi perkongsiannya di laman Facebook. ”Akak buntu dan tidak ada duit sekarang ni. Duit arwah suami akak, semua sudah dibekukan.” Pening sebab perniagaan arwah tetap kena diteruskan, tapi akak langsung tiada duit, hutang dengan supplier pun sudah banyak. Nak bayar gaji pekerja lagi,” menangis akak tu. ”Tak apa kak. Saya bantu semampu saya.” ”Tak payah cerita bisnes, dik. Perbelanjaan rumah, hutang kereta akak, kad kredit, sebelum ini arwah bayarkan tapi atas nama akak.” Rumah yang akak tengah duduk sekarang ini pun, adik beradik arwah sudah mula tanya hak mereka. Arwah pernah cakap, dia ada namakan akak sebagai penama di KWSP. Sebab arwah kata, semua duit KWSP akan jadi hak akak. Bahagian isteri hanyalah 1/8 sahaja walaupun penama KWSP credit to sources Sebenarnya KWSP bukanlah hak milik mutlak isteri setelah suami meninggal dunia. Bahagian isteri cuma 1/8 sahaja sekalipun anda penama KWSP berkenaan. Sebagai contoh, duit KWSP suami ada RM100,000. Kalau suami meninggal dunia, hak isteri sedikit sahaja, cuma RM12,500. Selebihnya adalah hak waris faraid yang lain. Sambung semula kisah wanita tersebut, rupanya bahagian akak sedikit sahaja. Anak akak pula seorang perempuan. Rupanya dia punya hak tidak banyak. Itu pun tidak settle-settle lagi. Bila arwah sudah pergi, ramai pula ahli keluarga yang nak tuntut hak diorang. Akak buntu. Itulah kisah yang kita ambil iktibar. KWSP bukan hak milik mutlak penama. Penama sebagai urus tadbir sahaja, segala wang tersebut akan difaraidkan. Pembahagian faraid secara umum Kiraan mudah, secara umumnya pembahagian faraid adalah seperti berikut Bapa si mati 1/6 Ibu si mati 1/6 Isteri 1/8 Biasanya baki akan dapat pada anak-anak. Anak lelaki dua bahagian, anak perempuan satu bahagian. Kalau tiada anak lelaki, jadi baki harta akan diberi pada bapa si mati. Kalau bapa si mati telah tiada, adik beradik si mati juga ada bahagiannya masing-masing. Ini secara umum sahaja, untuk lebih detail, anda kena semak semula dengan petadbir urus harta sebab lain situasi, lain pembahagian faraidnya. 5 kesengsaraan isteri selepas kematian suami tercinta credit to sources Wang dalam akaun arwah suami tidak boleh diguna selagi proses faraid belum selesai. Sekiranya anda tahu nombor pin ATM arwah pun tidak boleh dipakai untuk kegunaan sendiri. Wang dalam KWSP bukan hak mutlak isteri walaupun dia sebagai penama. Penama hanya sebagai WASI untuk menjalankan tanggungjawab uruskan wang tersebut bagi proses faraid. Isteri akan dapat 1/8 sahaja dari jumlah tersebut. Tidak banyak kan? Survival mode on! Sebelum proses faraid selesai, isteri amat memerlukan wang untuk teruskan kehidupan seperti biasa bersama anak-anak. Jika semua sepakat dalam proses faraid ini pun, ia akan ambil masa 6 bulan. Kalau tidak sepakat, mungkin makan bertahun juga baru selesai. Kos pengurusan harta faraid seperti kos guaman, pengangkutan dan lain-lain. Kebanyakan masa kini, waris lain tidak mahu keluarkan duit untuk kos tersebut dan hanya ingin dapatkan bahagian mereka sahaja. Jadi isterilah yang kena bersedia keluarkan duit membiayainya. Isteri juga perlukan duit untuk tebus harta daripada waris yang berhak faraid ke atas harta tersebut. Katakanlah ada satu rumah idaman yang isteri bina bersama suami, alih-alih kena jual sebab tidak boleh nk tebus harta tersebut. Jadi persiapkan diri anda awal-awal dengan duit simpanan sekiranya berlaku perkara sebegini. Isteri kena ambil tahu pasal ini, suami pun kena ambil tahu dan ceritakan pada isteri masing-masing. Sengsara ni, dah ramai isteri yang lalui selepas kematian suami. Isteri pujuklah suami untuk sediakan Hibah Takaful sementara masih sihat dan sempat bagi memudahkan urusan kelak. Sumber Azizul Azli Ahmad Kredit foto apaceritatv Peringatan Anda tidak dibenarkan menyiar artikel ini di mana-mana laman web atau status Facebook yang lain, tanpa pemberian kredit dan pautan yang tepat lagi berfungsi pada artikel asal di laman theAsianparent Malaysia Baca juga ”Ibu Masak Nasi Je, Lauk Belum Lagi, Lepas Tu Ibu Mati,” Kisah Sedih Anak Menyaksikan Ibu Meninggal Dunia Ada isu keibubapaan yang buat anda risau? Jom baca artikel atau tanya dan dapat terus jawapan dalam app theAsianparent kami! Download theAsianparent Community di iOS dan Android sekarang! Berbagai hal tersebut justru akan membuat anak memiliki rasa benci. Entah dia akan berpihak pada Anda atau malah memihak pada pasangan. 2. Fokus pada masa depan anak Alih-alih menyimpan banyak energi negatif pada mantan istri/suami, sebaiknya gunakan energi tersebut pada sesuatu yang lebih positif, misalnya menyiapkan masa depan anak Anda. Meski sudah tidak lagi bersama, Anda berdua memiliki tanggung jawab penuh terhadap masa depan anak Anda. Diskusikan tentang rencana tentang tabungan pendidikan hingga asuransi kesehatan anak. Perhitungkan dengan baik berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan per bulan untuk kedua hal tersebut. Bila perlu, Anda bisa melibatkan jasa perencana keuangan financial adviser agar pembiayaan anak Anda lebih terstruktur dan terencana. Jadi, entah tinggal dengan Anda atau mantan pasangan, masa depan anak penting untuk dibicarakan dan dipikirkan secara matang. 3. Maafkan diri Anda dan mantan pasangan Rasa bersalah, marah, dan benci bukanlah perilaku yang patut untuk dipertahankan. Berusalah sekuat tenaga untuk berdamai dengan diri sendiri sekaligus mantan pasangan Anda. Meski sulit dilakukan, memaafkan kekhilafan diri sendiri dan bahkan mantan pasangan sangat penting untuk membangun hubungan baik setelah perceraian. Belajarlah untuk melepaskan perasaan negatif agar Anda dan mantan pasangan bisa sama-sama bangkit dari keterpurukan. 4. Atur waktu bersama anak Dalam banyak kasus, urusan hak asuh anak sering kali membawa petaka setelah perceraian. Untuk menghindari hal ini, Anda dan mantan pasangan harus mendiskusikan dengan hati-hati dan kepala dingin. Bila perlu, libatkan pengacara untuk membantu memilih cara terbaik. Namun, terlepas siapa pun yang mendapatkan hak asuh anak nantinya, masing-masing dari kalian berdua berhak untuk bertemu dan menikmati waktu bersama dengan anak. Ingat, anak Anda ingin tetap menyayangi Anda berdua dan menikmati waktu bersama. Jadi, hindari berpikir bahwa anak terlalu memihak karena lebih senang tinggal di rumah Anda atau mantan pasangan Jika anak Anda sedang berada di rumah mantan pasangan, sempatkan untuk chatting, menelepon, dan bercerita apa pun selayaknya anak dan orangtua. Begitu pula ketika anak sedang berada di rumah Anda, ingatkan ia untuk memberi kabar ayah/ibunya. Katalog ProdukBerlangganan Pro Pro Solusi Wawasan Hukum DaftarMasuk BerandaKlinikInfografikHak-hak Istri Setela...InfografikHak-hak Istri Setela...Infografik15 Juni 2023Hak-hak Istri Setelah BerceraiTim RedaksiSetelah bercerai, mantan suami dapat diberikan kewajiban untuk menanggung nafkah-nafkah ini!Selengkapnya simak Hak-hak Istri Setelah Menggugat Cerai SuamiArsip Jawaban Populer1Perbedaan Das Sollen dan Das Sein2Somasi Pengertian, Dasar Hukum, dan Cara Membuatnya3Perbedaan Perjanjian Bilateral dan Multilateral4Tentang Tindak Pidana Asusila Pengertian dan Unsurnya5Hukumnya Meminjam Barang Tanpa IzinMitra ProsolutionLihat Semua 1Aksa Foundation2Dhaniswara Harjono & Partners DHP Law Firm3PT HSI Consulting4Ardianto & Masniari Counselors at Law5YAR Law FirmTips HukumLIHAT SEMUATentang Tindak Pidana Asusila Pengertian dan UnsurnyaSiapa Pihak yang Berwenang Mengawasi Koperasi?Video KlinikLIHAT SEMUANagih Utang Gak Boleh Bawa2 Polisi! Kenapa?Lihat Semua 2023 Hak Cipta Milik Sekiranya berlaku kes bercerai mati atau suami meninggal dunia, isteri boleh membuat beberapa tuntutan. Berikut adalah hak-hak isteri selepas bercerai mati TEMPAT TINGGALSepanjang tempoh eddahnya, tempat tinggal seorang isteri yang kematian suami adalah dirumah yang didiami bersama suaminya ketika suaminya masih hidup. Manakala tempoh eddah pula ialah selama 4 bulan 10 hari. Disini anda boleh faham bahawa isteri boleh tinggal di rumah tersebut sehingga tempoh eddah HARTA SEPENCARIANHarta sepencarian ialah harta yang diperolehi bersama oleh suami-isteri semasa perkahwinan berkuatkuasa mengikut syarat-syarat yang ditentukan oleh Hukum Syarak. Harta sepencarian ini boleh dituntut oleh isteri di Mahkamah yang sepencarian termasuklah wang ringgit, harta alih, harta tak alih atau apa-apa aset yang dihasilkan atas perkongsian bersama dalam tempoh perkahwinan. Tuntutan harta sepencarian ini hendaklah dikemukakann ke Mahkamah Tinggi harta sepencarian adalah lebih berdasarkan kepada undang-undang adat Melayu. Oleh kerana prinsip harta sepencarian tidak berlawanan dengan kehendak Syariah Islam maka peruntukan harta sepencarian diterima sebagai sebahagaian daripda Undang-Undang Islam di Al-Quran ada menyebut“Orang lelaki ada bahagian dari apa yang mereka usahakan dan orang perempuan pula ada bahagian dari apa yang mereka usahakan”.Surah An-Nisaa’ 32Dalam ayat ini dapat kita fahami bahawa hak wanita dalam harta benda itu bergantung dari apa yang Akta Undang-Undang Keluarga Islam Wilayah Persekutuan 1984, harta sepencarian ditakrifkan sebagai“Harta yang diperolehi bersama oleh suami isteri semasa perkahwinan berkuatkuasa mengikut syarat-syarat yang ditentukan oleh Hukum Syarak’.Menurut Kadi Besar Pulau Pinang Hj. Harussani bin Hj. Zakaria pada masa itu ketika memutuskan kes Piah bt. Said lwn Che Lah bin Awang 1983, Jld. 2 harta sepencarian ditakrifkan“Harta yang diperolehi bersama-sama suami isteri itu hidup bersama dan berusaha, sama ada keuda-dua pasanagan itu sama-sama bekerja dalam bidang yang sama atau dalam bidang yang berlainan dan sama ada secara rasmi atau tidak rasmi sama ada dibahagikan tugas atau tidak”.Jika ada keterangan yang cukup siapa yang mengusahakan harta itu maka hasil itu terpulang kepadanya;Jika tidak ada keterangan yang cukup di atas usaha masing-masing, mereka dikehendaki bersumpah. Apabila bersumpah semuanya, maka harta itu dibahagikan sama banyak juga. Jika semuanya enggan bersumpah dibahagikan sama banyak juga. Jika salah seorang enggan bersumpah, maka harta itu terpulang semua kepada yang bersumpah. Jika salah seorang atau semuanya telah mati maka hukum bersumpah itu dipertanggungjawabkan ke atas waris si mati sekiranya waris itu berlaku adat kebiasaaan bahawa salah seorang daripada suami isteri itu berusaha lebih dari yang lain, maka persetujuan pembahagian hendaklah mengikut adat kebiasaan itu. Jika persetujuan tidak didapati maka pembahagiannya adalah seperti a dan b di Ahmad Ibrahim ketika memberi keputusan Lembaga Rayuan Wilayah Persekutuan bagi kes Mansjur lwn Kamariah 1988, Jld. VI, 2 tentang harta sepencarian menyatakan“Apabila timbul pertikaian mengenai kadar pembahagian harta seperncarian, jika tidak terdapat persetujuan, keputusan diserahkan kepada hakim yang menggunakan budibicaranya”. Ini bermakna hakim akan membuat keputusan sendiri berdasarkan budi bicaranya”.Persoalan yang timbul ialah bagaimana kedudukan seseorang isteri yang hanya bertugas sebagai suri rumahtangga sepenuh masa, adakah ia berpeluang menuntut harta sepencarian? Dalam kes Boto’ binti Taha lwn Jaafar bin Muhammad 1984, 1 telah diputuskan bahawa seorang isteri yang hanya bertugas menolong suami berhak mendapat harta sepencarian. Fakta kesnya adalah seperti berikutPihak menuntut isteri telah menuntut harta sepencarian dari bekas suaminya separuh dari harta yang diperolehi semasa dalam perkahwinan. Harta-harta itu termasuk tanah, rumah, perahu, jala ikan dan warung ikan gerai tempat menjual ikan. Apabila ia isteri berkahwin dengan pihak yang kena tuntut suami pihak yang menuntut telah meninggalkan kerjayanya sebagai pembantu kedai di sebuah restoren dan bertugas sebagai suri rumah di samping membantu tugas-tugas suami. Yang Arif Hakim Saleh Abas ketika itu ketika memutuskan kes itu menyatakan“Pihak menuntut isteri menemani pihak kena tuntut boleh dikira sebagai usahanya bersama atau sumbangannya memperolehi pendapatan yang mana telah menghasilkan harta itu. Memang betul bahawa pihak menuntut isteri tidak mengambil bahagian langsung dalam perniagaan ikan dengan pihak kena tuntut suami akan tetapi kesediaannya berdampingan dengan pihak kena tuntut adalah menghasilkan ketenangan fikiran yang membolehkannya berniaga dengan berkesan. Oleh tu adalah kenyataan perkahwinan mereka dan apa yang mereka berbuat semasa perkahwinan yang menjadikan harta itu sebagai harta sepencarian”.Menurut Kadi Besar Pulau Pinang, Yang Arif Hj. Harussani bin Hj. Zakaria pada masa itu ketika memutuskan kes Nor Bee lwn Ahmad Shanusi 1978, Jld. 1, 2 mengenai harta sepencarian“Harta sepencarian diluluskan oleh Syarak atas dasar khidmat dan perkongsian hidup. Isteri mengurus dan mengawal rumahtangga ketika suami keluar mencari nafkah. Isteri menurut Syarak berhak mendapat orang gaji dalam menguruskan rumahtangga. Jika tiada orang gaji maka kerja memasak, membasuh dan mengurus rumah hendaklah dianggap sebagai sebahagian dari kerja yang mengurangkan tanggungan suami”.Ini bermakna seseorang suri rumahtangga berhak menuntut harta sepencarian dari HUTANG DALAM PERKAHWINANSeseorang isteri boleh membuat tuntutan hutang ke atas bekas suaminya jika didapati bekas suaminya tidak membayar mas kahwin, tidak memberi saraan hidup ketika dalam tempoh perkahwinan, tunggakan nafkah anak dan PEMBAHAGIAN HARTA PUSAKA BERDASARKAN FARAIDBentuk harta yang boleh dibahagikan secara Faraid adalahTanah, bangunan rumah, kilang, gudang dll;Barang kemas emas, perak dll;Insurans, saham, bon, wang tunai, dll sama ada dilabur atau tidak;Tanah, kebun, ladang dll;Binatang ternakan seperti kambing, lembu, unta, kerbau kepada si mati berhak mendapat 1/4 jika Tiada anak ATAU Tiada cucu dari anak lelaki1/8 jika Mempunyai anak ATAU Mempunyai cucu dari anak lelaki5. TANGGUNGJAWAB TERHADAP ANAKWali sebelah keluarga lelaki yang bertanggungjawab terhadap anak peninggalan arwah. Wali yang mendapat bahagian dalam faraid perlu menanggung kebajikan dan pendidikan anak-anak si arwah. Sama ada ianya datuk kepada anak-anak tersebut ataupun pakcik-pakcik mereka jika datuknya telah tiada. Ditulis oleh Admin on 20 Oktober 2022. Dilihat 26486 HAK-HAK PEREMPUAN DAN ANAK PASCA PERCERAIAN Oleh Farin Munazah, Pengadilan Agama Brebes, Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. ABSTRAK Artikel ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan serta wawasan terkait dengan perlindungan hak-hak perempuan serta anak pascaperceraian sebagaimana peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan cara meneliti bahan-bahan melalui studi kepustakaan serta data sekunder lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hak-hak perempuan pascaperceraian sebagaimana diatur di dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan UU Perkawinan serta Kompilasi Hukum Islam KHI antara lain nafkah mut’ah, nafkah iddah, miskan, kiswah, mahar terhutang dan hadhanah. Penentuan dari jenis dan besaran nafkah tersebut ditentukan oleh Pengadilan atas dasar permohonan dari perempuan. Adapun hak-hak anak pascaperceraian sebagaimana diatur di dalam UU Perkawinan serta KHI adalah nafkah hadhanah yaitu biaya pemeliharaan serta pendidikan bagi anak yang menjadi tanggungjawab ayahnya. Akan tetapi apabila berdasarkan pertimbangan Pengadilan menyatakan bahwa laki-laki selaku ayah tersebut dianggap tidak mampu maka biaya tersebut juga menjadi tanggungjawab perempuan selaku ibu dari anaknya. Hak anak untuk mendapatkan pemeliharaan serta pendidikan tersebut merupakan manifestasi dari kewajiban orangtuanya sebagaimana diatur di dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak serta Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. Kata Kunci hak perempuan, hak anak, pasca perceraian PENDAHULUAN Pengertian Perkawinan menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang perkawinan, ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dari pengertian tersebut, dapat dilihat bahwa tujuan perkawinan adala kebahagiaan yang kekal abadi. Namun, kehidupan rumah tangga tidak selalu berjalan mulus, ada suatu keadaan tertentu yang menghendaki putusnya perkawinan, karena jika perkawinan dilanjutkan dikhawatirkan akan membawa kemudharatan bagi anaknya. Ada 3 tiga alasan putusnya perkawinan yang diatur di dalam Kompilasi Hukum Islam, yakni 1 Kematian, 2 Perceraian, putusnya perkawinan karena kehendak pihak suami cerai talak atau kehendak istri cerai gugat yang diajukan ke Pengadilan Agama, 3 Atas Putusan Pengadilan, putusnya perkawinan atas kehendak hakim sebagai pihak ketiga setelah melihat dan mempertimbangkan adanya suatu hal yang menandakan tidak dapat dilanjutknnya hubungan perkawinan itu atau biasa disebut fasakh. Dalam putusanya perkawinan selalu ada akibat hukum yang telah ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan, terutama berkaitan dengan hak-hak yang harus dipenuhi oleh mantan suami kepada mantan istri dan anak. Sebagai sebuah lembaga peradilan, Pengadilan Agama harus selalu berperan dalam jaminan pemenuhan hak-hak perempuan dan anak pasca perceraian. Dalam Perma Nomor 3 Tahun 2017 disebutkan bahwa dalam proses mengadili, hakim harus menjamin hak perempuan terhadap akses yang setara dalam memperoleh keadilan. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, Penulis tertarik untuk membahas mengenai hak-hak perempuan dan anak pasca perceraian. Masalah dalam penelitian ini dibatasi dan dirumuskan sebagai berikut Bagaimana hak-hak perempuan pasca perceraian menurut peraturan perundang-undangan? Bagaimana hak-hak anak pasca perceraian menurut peraturan perundang-undangan? METODE Metode yang digunakan dalam penelitian normatif yuridis, Penelitian normatif yuridis merupakan suatu metode untuk meneliti hukum dari perspektif internal dengan objek penelitiannya adalah norma hukum. Pendekatan ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam terakait aturan tertulis maupun tidak tertulis. Disisi lain, penelitian normatif bertujuan untuk memberikan argumen yuridis ketika terjadi kekosongan, kekaburan dan konflik norma. PEMBAHASAN Perceraian adalah putusnya ikatan lahir batin antara suami dan istri sehingga mengakibatkan hubungan perkawinan, dan menimbulkan beberapa akibat hukum baik berupa hak dan kewajiban. Salah satu hak dan kewajiban yang muncul dari perceraian adalah adanya kewajiban mantan suami untuk memberikan beberapa hak untuk mantan istri dan anaknya. Hak-hak yang dapat diperoleh perempuan dan anak pasca perceraian tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, dan Kompilasi Hukum Islam. Hak-Hak Perempuan Pasca Perceraian dalam Peraturan Perundang-Undangan Pada Pasal 41 huruf d Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 disebutkan bahwa Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas isteri. Dari pasal tersebut, dapat dilihat bahwa ada beberapa hak yang bisa diperoleh mantan istri dari mantan suami. Secara khusus, hak-hak tersebut diatur dalam Kompilasi Hukum Islam Bab XVII. Pasal 149 KHI mengatur beberapa kewajiban mantan suami kepada mantan istri yang perkawinannya putus karena talak, diantaranya adalah memberikan mut’ah yang layak kepada bekas isterinya, baik berupa uang atau benda, kecuali bekas isteri tersebut qobla al dukhul. Nafkah Mut’ah menurut Pasal 1 huruf j mut’ah adalah pemberian bekas suami kepada isteri, yang dijatuhi talak berupa benda atau uang dan lainnya. Berdasarkan Pasal 158 KHI Mut’ah dapat diberikan dengan syarat belum ditetapkan mahar bagi isteri ba’da al dukhul dan perceraiannya atas kehendak ketentuan di atas bahwa kewajiban memberi mut’ah yang layak oleh bekas suami kepada bekas istrinya adalah bersifat imperatif dan melekat, baik berupa finansial uang maupun non-finansial berwujud benda, kecuali bilamana suami istri ketika hidup berumah tangga, istri sama sekali belum pernah digauli oleh suaminya qabla al-dukhul. Lalu, memberi nafkah, maskan dan kiswah kepada bekas istri selama dalam iddah, kecuali bekas isteri yang telah dijatuhi talak ba’in atau nusyuz dan dalam keadaan tidak hamil. Adapun yang dimaksud nusyuz adalah ketidaktaatan seorang istri terhadap kewajibannya dalam suatu hubungan perkawinan sehingga menimbulkan perselisihan dalam rumah tangga. Nafkah iddah, maskan dan kiswah, kepada bekas isteri selama masa iddah, kecuali perempuan yang diceraikan telah dijatuhi talak ba’in atau nusyuz dan dalam keadaan tidak hamil. Adapun maksud daripada nusyuz adalah suatu keadaan dimana perempuan sebagai seorang istri tidak menunaikan kewajibannya terhadap suami yaitu berbakti secara lahir dan batin. Menentukan nusyuz atau tidaknya perempuan sebagai seorang istri adalah berdasarkan kepada bukti-bukti yang sah yang diajukan selama proses persidangan. Akan tetapi bekas suami wajib untuk memberikan tempat tinggal maskan bagi perempuan pascaperceraian selama menjalani masa iddah terlepas dari nusyuz atau tidaknya bekas istri. Hal ini sebagaimana diatur di dalam Pasal 81 KHI. Nafkah hadhanah, yaitu nafkah yang diberikan kepada anak hingga anak tersebut dewasa dan dapat mengurus diri sendiri. Pasal 80 Ayat 4 Huruf c KHI menyatakan bahwa nafkah keluarga di mana di dalamnya termasuk nafkah kehidupan serta pendidikan bagi anak ditanggung oleh ayah. Begitupula setelah terjadi perceraian, Pasal 105 KHI menyatakan bahwa biaya pemeliharaan anak ditanggung oleh ayahnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa biaya pemeliharaan anak baik ketika sebelum perceraian maupun setelah perceraian tetap menjadi tanggungjawab seorang suami. Mantan istri juga berhak atas hak pemeliharaan anak atau hadhanah bagi anak yang belum berusia 12 tahun. Dan berhak juga atas mahar yang terhutang dengan melunasi mahar yang masih terhutang seluruhnya, dan separoh apabila qobla al dukhul sesuai dengan Pasal 149 huruf c KHI. Hak-Hak Anak Pasca Perceraian Dalam Peraturan Perundang-Undangan Dalam peraturan hukum di Indonesia, anak sebagai bagian dari warga negara memiliki hak-hak yang harus dilindungi. Hak-hak tersebut diatur di dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2022 tentang Perlindungan Anak UU No. 23 Tahun 2002. Berlakunya UU No. 23 Tahun 2002 merupakan konsekuensi dari Indonesia sebagai negara hukum serta konsekuensi dari diratifikasinya Konvensi Hak-Hak Anak. UU No. 23 Tahun 2002 mengatur beberapa hak-hak anak yaitu Hak hidup sebagaimana diatur di dalam Pasal 4 UU No. 23 Tahun 2002 di mana menjamin hak anak untuk dapat hidup, Hak beragama, berfikir dan berekspresi sebagaimana diatur di dalam Pasal 6 UU No. 23 Tahun 2002. Pasal ini memberikan perlindungan kepada anak untuk dapat berekspresi, kebebasan untuk menyalurkan kreativitasnya, memberikan pilihan kepada anak terhadap agama yang ia peluk serta mendapat perlindungan untuk beribadah sesuai dengan agamanya, Hak kesehatan dan kesejahteraan, UU No. 23 Tahun 2002 menjamin kesehatan anak untuk pertumbuhan dan perkembangannya serta di dalam Pasal 12 menyatakan bahwa anak memiliki hak rehabilitasi, bantuan sosial serta pemeliharaan, Hak pendidikan dan pengajaran, di mana anak memiliki hak untuk mendapatkan pengajaran untuk dapat meningkatkan pengetahuannya, menyalurkan kemampuannya serta untuk dapat bertanggungjawab secara moral dan sosialnya, Hak perlindungan, anak memiliki hak untuk dilindungi dari berbagai bentuk diskriminasi, penelantaran, eksploitasi, kekejaman, kekerasan serta perlakuan salah lainnya, Hak pengasuhan, anak memiliki hak untuk mendapatkan pengasuhan secara efektif dan bebas dari tekanan atau perlakuan semena-mena di bawah pengasuhan baik oleh orangtuanya ataupun oleh pihak lain, Hak mendapat keadilan, anak memiliki kebebasan untuk dapat diperlakukan secara manusiawi serta mendapatkan bantuan dalam rangka memperoleh keadilan dalam kehidupannya. Sedangkan dalam rangka menegakkan perlindungan hukum terhadap hak-hak anak terutama dalam lingkup rumah tangga, maka pemerintah telah menetapkan UU Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Pencegahan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, diantaranya dengan menetapkan sanksi pidana bagi pihak-pihak yang secara hukum bertanggung jawab terhadap hak-hak anak, akan tetapi tidak melaksanakan kewajibannya tersebut sehingga dapat dikategorikan sebagai telah melakukan tindakan kekerasan terhadap anak. Maka dengan meningkatnya tuntutan perlindungan terhadap hak-hak anak dari negara, pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat seiring dengan meningkatnya kasus-kasus kekerasan terhadap anak, maka badan Legislatif bersama Pemerintah telah melakukan revisi dan penyempurnaan UU perlindungan anak tersebut menjadi UU Nomor 35 tahun 2014 Tentang Perubahan UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Hak-hak tersebut di atas haruslah ditunaikan bagaimanapun kondisinya. Berkaitan dengan hak-hak anak pascaperceraian telah diatur baik di dalam UU Perkawinan maupun di dalam KHI. Pasal 41 UU Perkawinan menyatakan bahwa pasca perceraian, orangtua tetap memiliki kewajiban untuk memelihara serta mendidik anak-anaknya demi kepentingan anak. Selain itu, biaya pemeliharaan serta pendidikan anak merupakan tanggungjawab ayahnya. Akan tetapi apabila ayahnya tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut maka ibu juga memiliki kewajiban tehadap biaya yang dimaksud. Hal yang sama juga diatur di dalam Pasal 149 huruf d KHI yang menyatakan bahwa bekas suami memiliki kewajiban untuk memberikan nafkah hadhanah kepada anak-anaknya. Maksud daripada nafkah hadhanah adalah biaya pemeliharaan, pengasuhan serta pendidikan terhadap anak hingga ia tumbuh dewasa. Pasal 105 huruf c KHI juga menegaskan di mana tanggungjawab biaya pemeliharaan anak pascaperceraian berada pada ayahnya. Kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan tersebut merupakan hak-hak yang harus diperoleh anak pascaperceraian. Hal tersebut sebagaimana diatur di dalam Pasal 4 UU No. 23 Tahun 2002 di mana anak memiliki hak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Hak-hak tersebut lah yang merupakan manifestasi dari kewajiban kedua orangtuanya sebagaimana diatur di dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak di mana usaha kesejahteraan anak pertama-tama dan terutama menjadi tanggungjawab orangtua. Dari beberapa hal tersebut, maka hak-hak anak yang menjadi kewajiban orangtua harus tetap ditunaikan bagimanapun kondisinya, baik orangtuanya masih terikat dalam perkawinan maupun pascaperceraian. Hak- hak tersebut dapat terpenuhi jika pihak mantan istri mengajukan tuntutan hak tersebut di dalam gugatan. Mahkamah Agung Republik Indonesia telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2019 Tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2019 Sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas bagi Pengadilan. Point istimewa tersebut adalah sebuah ketentuan yang menyebutkan bahwa “Dalam rangka pelaksanaan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2017 Tentang Pedoman Mengadili Perempuan Berhadapan Dengan Hukum untuk memberi perlindungan hukum bagi hak-hak perempuan pasca perceraian, maka amar pembayaran kewajiban suami terhadap istri pasca perceraian dalam perkara Cerai Gugat dapat menambahkan kaliman sebagai berikut ...yang dibayar sebelum Tergugat mengambil akta cerai’, dengan ketentuan amar tersebut dinarasikan dalam posita dan petitum gugatan”. Ketentuan tersebut merupakan secercah harapan Penggugat dalam perkara Cerai Gugat istri yang menggugat cerai suami untuk dengan mudah mendapatkan hak-hak akibat cerainya sebagai istri. SIMPULAN Hak-hak seorang perempuan pasca perceraian telah diatur di dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia yaitu Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan UU Perkawinan serta Kompilasi Hukum Islam KHI. Keduanya mengatur hak-hak perempuan pasca perceraian diantaranya yaitu nafkah mut’ah, nafkah iddah, maskan dan kiswah, mahar terutang serta harta bersama. Nafkah-nafkah tersebut ditentukan baik jenisnya maupun besarannya oleh Pengadilan berdasarkan permohonan yang diajukan oleh pihak perempuan. Hak-hak anak pasca perceraian baik di dalam UU Perkawinan maupun KHI adalah anak memiliki hak untuk tetap mendapatkan pemeliharaan, pengasuhan serta pendidikan dari kedua orangtuanya. Dalam hal pembiayaan pemeliharaan serta pendidikan terhadap anak pasca perceraian merupakan tanggungjawab dari ayahnya di mana di dalam KHI hal tersebut dikenal dengan istilah nafkah hadhanah. Hal tersebut merupakan bentuk tanggungjawab orangtua dalam menjalankan kewajibannya demi terwujudnya hak-hak anak sebagaimana diatur di dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. DAFTAR PUSTAKA Kompilasi Hukum Islam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2022 tentang Perlindungan Anak Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU Perkawinan Soekanto, Soerjono dan Sri Mahmudji, 2003, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta Raja Grafindo Persada Khoiri, Khoiri, 2018, Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban Perceraian yang Terabaikan oleh Hakim Peradilan Agama, Makalah Hakim Pengadilan Agama Jakarta Fatimah, Rabiatul Adawiyah dan M. Rifqi, “Pemenuhan Hak Istri dan Anak Akibat Putusnya Perkawinan Karena Perceraian Studi Kasus di Pengadilan Agama Banjarmasin”, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, Vol. 4, No. 7, Mei 2014, Banjarmasin. Iksan, Adnan dan Khairunnisa, “Perlindungan Anak Pasca Perceraian Orang Tua”, Jurnal Fundamental, Vol. 9, No. 1, Januari 2020, Bima Sholeh Aziz, Dian Rachmat dan Aah Tsamarotul Fuadah, “Pendampingan Hak-Hak Perempuan dan Anak Pasca Perceraian”, Jurnal CIC, Vol. 1, September 2019, Depok Stepani, “Pemenuhan Hak Anak Pasca Perceraian Studi Kasus di Sulawesi Utara”, Jurnal Lex et Societatis, Vol. III, No. 3, April 2015, Manado

hak mantan istri setelah perceraian